Assalamu’alaikum wr.wb... J
Alhamdulillah acara majelis 8 yaitu Seminar Alisha telah terlaksana pada 30 Agustus 2014 J
Kami mengundang teteh Tsani Liziah sebagai pembicara atau pemateri dalam Seminar Alisha kali ini. Acara ini alhamdulillah berlangsung sukses. Semoga acara Seminar selanjutnya dapat lebih lancar dan lebih kreatif untuk kedepannya. Hamasah Keputrian DKM Al-Ma’wa :D
Prosesnya sebagai berikut, this is a pamflet :)



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim...Cinta itu indah..jika cinta itu kerana ALLAH..karena cinta itu akan sampai kepada ALLAH dahulu, kemudian barulah kepada sesiapa sahaja yang kamu cintai..

Rindu itu indah…jika rindu itu karena ALLAH…karena rindu itu akan sampai kepada ALLAH dahulu, kemudian barulah kepada siapa saja yang kamu rindui…

Kegembiraan itu indah..jika gembira itu karena ALLAH…karena gembira itu akan sampai kepada ALLAH dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang membuat kamu gembira…

Sedih itu indah..jika sedih itu karena ALLAH..karena sedih itu akan sampai kepada ALLAH dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang membuat kamu sedih…

Bosan itu indah..jika bosan itu karena ALLAH..karena bosan itu akan sampai kepada ALLAH dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang kamu bosankan…

Kesibukan itu indah..jika sibuk itu karena ALLAH..karena kesibukan itu akan sampai kepada ALLAH dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang kamu sibukkan…

Sakit itu indah..jika sakit itu karena ALLAH..karena kesakitan itu akan sampai kepada ALLAH dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang menyakitkan kamu…

Benci itu indah..jika benci itu karena ALLAH..karena kebencian itu akan sampai kepada ALLAH dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang membuat kamu benci…

Kesusahan dan derita itu indah..jika ia karena ALLAH..karena derita dan kesusahan itu akan sampai kepada ALLAH dahulu, kemudian barulah kepada apa saja yang membuat kamu susah dan derita..

Maka, niatlah segala perasaan kita hanya untuk ALLAH..HANYA UNTUK MENDAPATKAN KERIDHAAN ALLAH...

JUJURLAH kepada ALLAH..atas segala yang menimpa kamu...atas segala yang diperbuatkan oleh kamu dan KEMBALIKANLAH SEGALA PERASAAN itu kepada ALLAH kembali..karena ALLAH jua lah yang memberi segala perasaan itu..

Jika ia MEMBERI KEBAIKAN dan menghapuskan dosa-dosa untuk kamu, menyempunakan diri kamu di kemudian hari, maka RIDHALAH dengan perasaan itu..mohonlah, berdoalah agar ALLAH perbaiki diri kamu...dan BERUSAHA lah untuk MUHASABAH diri..cari di mana KELALAIAN kamu selama ini...dan BERUSAHALAH memperbaiki diri...

Jika perasaan itu MENAMBAHKAN DOSA-DOSA kamu, maka MOHONLAH DIHILANGKAN hanya karena takut akan MURKA, AZAB ALLAH di 'sana' nanti..

SERAHLAH DIRI kepada ALLAH..dalam APA saja yang berlaku kepada kamu..InsyaALLAH, ALLAH akan mengembalikan kembali perasaan-perasaan kamu itu mengikut apa yang TERBAIK untuk kamu…

Percayalah,ALLAH TIDAK PERNAH menyiksa kamu,karena bukan itu tujuan kamu diciptakan..

ALLAH sentiasa merindui dan mencintai kamu,hamba-hambaNYA ,lebih dari segala manusia yang ada di muka bumi ini...

ALLAH memberi perasaan-perasaan itu untuk memberi 'isyarat' CINTA dan KASIH SAYANG NYA untuk kamu KEMBALI kepada NYA...kembali tenang HANYA jika BERSAMANYA...

JIka masih belum ketemui 'keindahan' itu, sekurang-kurangnya kamu mendapat RIDHA ALLAH..karena kamu MENGINGATI DIA dan BERNIAT HANYA KARENA DIA di setiap apa saja yang menimpa kamu...

Apakah yang lebih bernilai dari RIDHA ALLAH? dari RAHMAT ALLAH? dari KETENANGAN daripada ALLAH? dari perasaan KEINDAHAN hanya dengan 'BERSAMA' ALLAH?

Insya ALLAH, kamu, kita semua akan ketemu ‘keindahan’ itu…jika karena ALLAH...percayalah…

Aamiin Ya Rabbal Alamin..

” Wallahu a’lam والله أعلم

Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ... 





Oleh :  'Dzikir Cinta' 
Sumber : 'Dzikir Cinta'

~axrprakasa

Hari demi hari terlewati seperti biasanya. Tak ada yang spesial, tak ada yang menarik, tak ada yang membosankan, tak ada yang membuatku jengkel.

Hampa...sunyiiii....

Setiap hari terlewati begitu saja. Waktu memang sudah terasa semakin cepat. Pertanda bahwa kehidupan ini akan segera berakhir. Orang-orang disekelilingku banyak yang tidak memakai akal sehat nya, dalam artian banyak diantara mereka yang tidak memperdulikan nasibnnya kelak di akhirat nanti.

"Semenjak saat itu", aku selalu memikirkan bagaimana kelak kehidupan di dunia ini nantinya. 'Mereka' melewati semua kehidupan di dunia ini dengan bebas nya, tidak peduli dengan aturan yang seharusnya mereka sadari. Yep, mungkin mereka tahu bahwa ada banyak hal yang tidak boleh dilakukan, tapi kenapa mereka masih saja melakukan hal itu?

Terkadang aku khawatir dengan semua ini. Tapi, apakah ini memang sudah semestinya? apakah harus seperti ini? semua kehidupan yang ada di alam ini? . Tidak baik sebenarnya jika aku menanyakan hal itu. Karena sudah jelas bahwa Allah sudah mengatur semua ini. Q.S. Yunus 10:31
Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup[689] dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?" 
Yakin, hanya kepada Allah aku memohon perlindungan. Hasbunallah wa nimal wakil ni'mal maula wa nimannasir (Cukuplah Allah sebagai Pelindung dan Dia adalah sebaik-baik pelindung).

Semangat menjalani hidup ! Tulisan pendek yang entah apa maksud penulis membuat tulisan ini. Hanya pemikiran sesaat saja yang melintas. Tapi terkadang, menjadi sebuah pemikiran yang berkelanjutan.
Hm, entahlah...

~Istiqamah di jalan Allah!!~



Oleh : NugrahaUP
Penulis : NugrahaUP

~axrprakasa

Kita lahir di bumi ini dalam keadaan tak berilmu. Oleh karena itu, setiap orang tua berkewajiban mendidik dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anaknya. Karena manusia lahir ke dunia dalam keadaan tak berilmu, maka Allah SWT memerintahkan kepada semua manusia, terutama umat islam untuk belajar atau menuntut ilmu sebagai bekal untuk menjalani hidup. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul;

“Belajarlah karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan pandai, dan pemilik ilmu itu tidak sama dengan orang yang bodoh.”Dalam pandangan islam, ilmu adalah sesuatu yang tergolong suci. Ilmu bagaikan pelita atau cahaya di malam yang gelap. Seseorang tak kan dapat berjalan dengan baik di malam yang gelap tanpa cahaya atau pelita, demikian pula halnya tak dapat seseorang membedakan yang benar dan salah, kecuali dengan ilmu. Mengenai perintah menuntut ilmu, Allah SWT memerintahkan secara tersirat dalam wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, QS.Al-Alaq.ayat1–5: Wahyu pertama ini, sebagai tanda pengangkatan Muhammad menjadi utusan Allah, memerintahkan “Iqro’= bacalah”. Meski tak secara langsung mengatakan “belajarlah”, namun perintah Allah dalam ayat ini untuk membaca adalah perintah tersirat kepada manusia untuk belajar, karena membaca merupakan salah satu cara untuk belajar. Membaca yang dimaksudkan disini tak sekedar membaca buku atau materi pelajaran, tetapi juga bermakna sebagai perintah untuk membaca dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah.


Bahwa hukum menuntut ilmu pada dasarnya adalah wajib/fardhu. Ada yang hukumnya fardhu ‘ain seperti menuntut ilmu agama, terutama yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah seperti cara berwudhu, shalat, dan sebagainya. Ada pula yang hukumnya fardu kifayah, seperti ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk mendukung urusan-urusan dunia, seperti ilmu kedokteran karena ilmu ini menjadi sesuatu yang penting untuk memelihara tubuh, atau ilmu hitung karena ini menjadi sesuatu yang penting didalam muamalah (jual beli), pembagian wasiat, harta waris dan lainnya.

Selain itu, hukum menuntut ilmu bisa berubah menjadi haram jika ilmu yang dipelajari dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain, atau menyesatkan dan membahayakan, seperti ilmu hitam, ilmu sihir, ilmu santet dan sebagainya.

Kita harus berilmu agar selamat hidup di dunia dan di akhirat. Karena dengan berilmu kita akan tahu mana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mana yang dilarang, atau mana yang disunnahkan oleh Rasul-Nya dan mana yang tidak sesuai dengan sunnah (bid’ah).


Dengan ilmu kita tahu tentang hukum halal dan haram, kita mengetahui makna kehidupan dunia ini dan kehidupan setelah kematian yaitu alam kubur, kita tahu kedahsyatan Mahsyar dan keadaan hari kiamat serta kenikmatan jannah dan kengerian neraka, dan lain sebagainya.


Dengan ilmu dapat mendatangkan rasa takut kepada Allah Ta’ala, karena sungguh Dia Yang Maha Mulia telah berfirman :


“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah orang yang berilmu (ulama).” (QS. Fathir : 28).

Allah mewajibkan manusia menuntut ilmu bukan tanpa sebab. Ada banyak sekali keutamaan menuntut ilmu yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.:


1.Allah Subhaanahu wata’aala akan mengangkat derajat orang yang berilmu

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.“ (QS. Al-Mujadilah : 11)

2. Ilmu adalah warisan para nabi, barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mendapat keuntungan yang sangat besar. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan tidak pula uang dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mendapatkan keuntungan yang besar.” (HR. Abu Dawud dan At-Timidzi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

3. Jika Allah menghendaki kebaikkan seorang hamba maka Allah akan memberikan pemahaman agama kepadanya.

“ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikkan pada dirinya maka Allah akan pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dari Shahabat Mua’wiyah)

4. Allah akan memudahkan bagi orang yang menuntut ilmu jalannya menuju surga.
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan menudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

5. Ilmu kebaikkannya akan tetap ada walaupun orangnya sudah mati.
“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendoakannya (kedua orang tuanya).” (HR. Muslim)

6. Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain." (Shahih Muslim No.1352)









ADAB MENUNTUT ILMU
Bagi seorang pelajar atau murid haruslah menepati beberapa syarat untuk menuntut ilmu agar ilmu yang dicari
akan memberi manfaat kepadanya di dunia mah\upun di akhirat. Di antara adab-adab yang perlu dimiliki oleh seorang penuntut ialah seperti berikut:


* Niat yang ikhlas kepada Allah swt . Yakni mencari ilmu karena ia merupakan satu kefardhuan daripada Allah. Mencari ilmu bukan bertujuan untuk mendapat pujian dunia semata-mata atau untuk berdebat dengan orang jahil. Barang siapa yang mencari ilmu dengan tujuan selain daripada karena Allah swt maka telah siap untuknya neraka Allah swt.


* Tekun dan bertawakkal hanya kepada Allah swt. Sesungguhnya Allah swt sangat suka kepada orang yang melakukan sesuatu pekerjaan lalu ia tekun mengerjakannya. kita hendaklah bertawakkal hanya kepada Allah swt. saja dalam segenap hal, lebih-lebih lagi dalam masalah menuntut ilmu . Ini kerana kita sebagai hamba hanya mampu berusaha tetapi Allahlah yang menentukan segalanya.


* Menjauhi segala maksiat. Maksiat adalah satu puncak daripada puncak-puncak seseorang pelajar itu susah untuk menerima, memahami dan mengamalkan sesuatu ilmu. Seorang pelajar perlulah berusaha semampu yang boleh untuk mengelakkan dirinya daripada sebarang maksiat. Sekiranya ia melakukan maksiat secara tidak sadar maka segeralah bertaubat kepada Allah swt. Orang yang sempurna bukan orang yang tidak pernah melakukan maksiat tetapi orang yang sempurna ialah orang yang apabila ia melakukan maksiat ia terus bertaubat kepada Allah swt dengan segera.


* Memilih kawan yang soleh. Kawan sangat berperan penting bagi orang yang hendak menuntut ilmu. Kita akan senang terpengaruh dengan akhlak kawan, sekiranya kita memilih kawan yang soleh mudah-mudahan kita akan menjadi insan yang soleh juga.


* Banyakkan zikir atau mengingati Allah swt. Kita tidak akan melakukan sesuatu maksiat di saat kita mengingati Allah swt. Zikir juga akan memberi ketenangan kepada jiwa kita. Apabila jiwa kita tenang maka segalah masalah akan dapat diselesaikan dengan baik.


* Menghormati diri sendiri dan orang lain. Banyak orang yang boleh menghormati orang lain tetapi tidak ramai orang yang mampu menghormati diri sendiri seperti tidak melakukan perkara-perkara yang boleh merasakkan badan,roh dan akal.


* Doa dari ibu bapa. Doa ibu bapa memainkan peranan penting dalam kejayaan seseorang pelajar. Doa yang tidak akan ditolak oleh Allah swt ada tiga golongan yaitu doa orang yang dizalimi,doa ibubapa dan doa orang musafir.


* Istiqomah atau terus menerus dalam amal dan menuntut ilmu butuh waktu yang lama (bukan hanya sebentar).


* Menghormati guru. Seorang pelajar wajib menghormati gurunya untuk mendapat keberkahan dalam hidupnya. Gurulah yang berkorban untuk menjadikan kita seorang yang berilmu pengetahuan..


* Beramal dengan ilmu yang dipelajari. Allah amat murka kepada mereka yang mempunyai ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Ilmu yang tidak diamal ibarat pohon yang tidak berbuah



Oleh : Rhegy Pratidina I
Sumber :

~axrprakasa

Bismillahirrahmanirrahim

“Katakanlah: Hai hamba – hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”( Az – Zumar : 53 )

Hidup secara benar di dunia ini memang penuh perjuangan. Sebab mayoritas manusia berkecendrungan tidak benar atau tidak sadar. Berjuang, Nampaknya merupakan hakikat hidup manusia, apalagi bagi manusia yang sudah jelas arah hidupnya, konkret cita – citanya, juga kemauannya. Berjuang dalam hal ini berarti mewujudkan keadaan sehingga menjadi ideal, atau minimal berjuang mengatasi masalah yang menghambat langkah kita. Sementara, yang kita ketahui masalah hidup selalu ada menanti kita. Ketika kita telah dikatakan selesai menjalani satu masalah, akan datang masalah lain yang senantiasa menanti.

Banyak dan beragamnya masalah yang menghadang kehidupan kita merupakan lahan bagi kita untuk memperjuangkan hidup kita akan lebih baik, benar, juga lebih indah. Oleh karena itu, sungguh terlarang bagi kita untuk berputus asa bila tertumbuk masalah yang besar. Larangan ini tidak hanya karena sikap berputus – asa bisa menciptakan hal – hal negatif yang bersifat destruktif bagi jiwa dan hidup kita.

Menjalani hidup berarti menghadapi masalah yang menghadangnya. Kadang masalah kecil dan kadang besar. Apapun masalah yang hadir di hadapan kita sesungguhnya bisa kita hadapi dengan penuh keyakinan. Sebab, Allah SWT ,dzat yang memberikan cobaan masalah bagi kita tentu ada tujuannya, dan tidak mungkin masalah yang kita alami ini diluar perkiraan yang mana kita dapat melewatinya. Seperti dijelasakan dalam firman Allah Surat Al – Baqarah ayat 286 :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ….”

Renungan dari firman ini adalah setiap masalah yang dihadapi seseorang sudah di format sesuai dengan orang tersebut. Masalahnya kemudian adalah, apakah orang tersebut meyakini bahwa sesungguhnya dirinya mampu berusaha dengan maksimal.

Mari kita urai, masalah apa yang sesungguhnya mengahadang kita dan bagaimana solusinya ?

Pertama, apakah sumber masalah itu dating dari kita sendiri ? Jika benar demikian, maka solusinya hanya dengan cara mengubah kebiasaan kita, misalnya malas, boros, takut, serakah, dan lain – lain.

Kedua, apakah sumber masalah itu menyangkut perilaku orang lain ? Jika benar, maka solusinya adalah dengan cara mengubah metode pengaruh kita terhadap orang lain. Misalnya pengaruh kita terhadap teman, tetangga, dll.

Ketiga, apakah masalah itu menyangkut diluar kendali kita ? Jika benar demikian, maka solusinya adalah dengan cara mengubah cara pandang kita terhadapnya sebab hal itu bisa diterima. Misalnya gempa bumi, gunung meletus, dan lain – lain.

Apapun masalah kita dan seberapa pun skalanya, sungguh tidak pantas membuat kita berputus asa. Oleh karena itu, untuk mengatasi agar tidak terjerumus dalam keputus – asaan.
Dukungan dan perhatian keluarga memang sangat penting dan sangat dibutuhkan. Allah menjelaskan tentang adanya larangan berputus – asa dalam segala hal, dalam surat Yusuf ayat 87 :

“… Dan janganlah berputus – asa dari Rahmat Allah, sebab sesungguhnya tidak akan berputus – asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kufur “

Berputus asa termasuk golongan yang kufur ? inilah penggolongan resmi dari Allah yang pasti benar, tegas perlu kita cermati. Barangsiapa berputus – asa niscaya tergolong kaum yang kufur. Kufur disini berarti mengingkari nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Seharusnya kita yakin bahwa kita pasti mampu untuk melewati semua ujian yang diberikan Allah dengan badan yang sehat ini, tidak kekurangan sesuatu apapun. Kita lihat orang lain, orang yang cacat fisik saja banyak yang mempunyai semangat yang tinggi selama menjalani hidupnya. Sedangkan kita ? hanya ditimpa masalah sepele saja kita sudah banyak mengeluh dan banyak sekali berbuat yang tidak seharusnya.

Seseorang yang berputus – asa berarti telah menutup dirinya dari proses hidup yang bergerak dan terus berkembang. Seseorang yang berputus – asa adalah seorang yang jiwanya mati atau mematikan diri sendiri. Sebagai akibatnya adalah, ketidak – maknaan hidupnya, bahkan tidak sedikit yang juga berusaha merusak lingkungan sekitarnya, atau bahkan mengakhiri hidupnya sendiri.

Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, "Oh andai kata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu", tetapi katakanlah, "Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya."Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: "andaikata" dan "jikalau" membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan." (HR. Muslim)

Mudah – mudahan kita terjauh dari sifat putus – asa tersebut. Mari kita selalu berusaha meningkatkan sikap mental yang positif dalam menghadapi semua permasalahan hidup, tentunya dengan cara meningkatkan keimanan kita. Berdo’a sesudah sholat adalah salah satu cara meningkatkan sikap mental positif.
Subhanallah (Mahasuci Allah ), berarti meniadakan pandangan negative dan buruk sangka terhadap Allah.
Alhamdulillah ( Segala puji bagi Allah ),berarti menanamkan prasangka baik dan sikap positif.
Allahu Akbar ( Allah Maha Besar ), berarti menegaskan diri bahwa selain Allah SWT itu adalah kecil dan tak berarti apa – apa, serta bertekad menjalani hidup dengan keyakinan bersama Allah.

*Wallahu’alamBisshawwab



Oleh : Rhegy Pratidina I
Sumber :

~axrprakasa
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … 

Dimanakah aku akan menemukannya, sebuah mutiara di lautan terdalam yang tertutup pasir kehidupan? Dimanakah aku akan mendapatkannya, mutiara suci yang tak pernah tersentuh siapapun? Masih adakah dia untukku?’

“Ngelamunin apa sih bang?” aku menoleh ke belakang. Kudapati Nabila sudah ada di sampingku.

“Nggak ngelamunin apa-apa kok dik!”

“Cerita donk bang? Masa sama Nabila nggak mau cerita.”

“Abang lagi mikirin seseorang yang akan dampingi abang,”aku kembali menerawang langit pagi yang berwarna gelap. Hujan yang akhir-akhir ini sering mengguyur bumi, membuatku ikut terlena olehnya.

“Abang udah dapat calon?” Nabila langsung duduk dihadapanku.

“Belum!”

“Yah abang, kirain udah dapat calon. Belum ada calonnya tapi udah dibayangin segala,”kata Nabila protes.

“Abang bukan bayangin kecantikan
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … 
Sahabat-sahabatku, banyak sekali motivasi orang beribadah. Dari berbagai pengalaman dan cerita, saya merangkum beberapa di antaranya.

# Sekedar gugur kewajiban .....

Ini adalah tingkatan paling bawah (menurut saya). Yg penting sudah selesai mengerjakan, selesai urusan. Tidak dipikir apakah saat ibadah dia bersungguh-sungguh atau apakah ALLaH SWT menerima ibadahnya.

# Mencari pahala ....

Percaya atau tidak, masih banyak di antara kita, bahkan yg sudah tua, menjadikan pahala sebagai tujuan beribadahnya. Tidak heran, jika ada yg berhitung dengan teliti untuk ibadahnya di bulan Ramadhan ini.

Recent Post

Recent Comment

Banner