[Artikel] Niat Baik Tak Selalu Dinilai Baik

 http://al-ma-wa.blogspot.com

Heran banget deh sama mahluk yang satu ini, suka ngambil kesimpulan sendiri, suka semau-maunya sendiri, pokoknya sesuka-sukanya daah. Namanya juga manusia. Justru di situlah nampak di level mana dia menempatkan dirinya. Jadi inget pepatah, mulutmu adalah harimaumu. Hati-hati deh sama yang namanya mulut ini. Mendingan diem daripada berkoar-koar sesuatu yang kita nggak tahu pasti.
Ceritanya begini, kan ada salah satu temen deket yg akan resign, kebetulan dia adalah seorang ibu yg sudah berputra. Kita diskusi perkara keinginan untuk menjadi FTM sih dah lama, ada kali setengah tahunan yang lalu. Diskusi itupun berlangsung alot, tarik ulur, but alhamdulillah akhirnya berakhir dengan kita sama-sama untuk mengundurkan diri dari dunia pekerjaan yang harus meninggalkan anak-anak di rumah.

Banyaklah respon yang bermunculan ketika berita ttg temanku untuk resign itu muncul ke permukaan publik. Ada yang keheranan, ada yang sedih, dan bahkan ada yang cuek bebek. Ada yang beranggapan bahwa kita (aku dan dia) dalam kondisi yang sudah berlebihan dari sisi materi (amiiin). Padahal, enggak bow. Kita bener-bener nekaaaat. Masalah pemenuhan materi kita serahkan sepenuhnya pada pihak suami yang kebetulan bekerja secara wiraswasta. Nggak ada yang namanya pendapatan menetap. But, kita memandang hal itu sebagai tantangan yang harus bisa ditaklukkan. Bagaimana cara melepaskan diri dari comfort zone. Gimana tidak....kita bisa membelanjakan apa yang kita dapat selama sebulan untuk kesenangan kita sendiri (ada juga sih yang ikut menopang hidup keluarga), lalu fasilitas medical yang ditanggung sepenuhnya oleh pihak kantor, tantangan biaya pendidikan yang semakin hari semakin mahal (kala itu kita punya ambisi untuk menyekolahkan anak-anak ke sekolah yang bagus dan mahal). Tetapi semua fasilitas itu harus kita kubur jauh-jauh atau paling tidak disimpan dulu kalau-kalau dana yang kita miliki mencukupi kenapa tidak melaksanakan impian-impian tersebut.
Kita hanya melihat diri kita masing-masing, menyadari peran dan tanggung jawab seorang ibu yang lebih mengutamakan pendidikan mental dan moral anak yang menurut kami hanya bisa kami berikan ketika kita mendampingi tumbuh dan kembang anak-anak kami. Tidak dengan menyerahkan pola pengasuhan kepada pembantu atau kepada kakek dan neneknya. Bagaimanapun, menurut kami, perlu untuk menekankan konsistensi dalam pola pengasuhan anak, apalagi untuk anak-anak yang masih balita. Karena masa itu adalah masa terbentuknya pondasi mental dan kepribadian. Kalo menganut pola pengasuhan secara bergantian (kadang pembantu, kadang kakek neneknya, kadang kita), maka tak salah jika anak akhirnya mengalami kebingungan. Aliran mana yang akan dianut. Atau paling tidak, kita harus menentukan siapa yang menjadi penentu pola pengasuhan. Berhubung kita sebagai orang tua kalah 'senior' dengan kakek neneknya, tak jarang kita lebih mengalah daripada terjadi debat kusir diantara kami. Ini yang kami sangat tidak sepakat. Kami ingin mendidik anak-anak kami sesuai dengan nilai-nilai yang kami (ayah dan ibunya) anut, bukan orang lain atau kakek dan neneknya sekalipun.
Hal di atas sebenarnya yang menjadi landasan kenapa kami memutuskan untuk meninggalkan segala kemewahan yang selama ini kami terima. Kami lebih mengedepankan masa depan anak-anak kami.
Tapi, berhubung nilai di masyarakat umum yang berkembang adalah lumrah jika ibu ikut-ikutan untuk bekerja, dan lagi sayang dengan pendidikan yang sudah ditempuh dan menghabiskan biaya yang banyak dan sayang dengan fasilitas yang selama ini kami terima, ketika para ibu-ibu memutuskan untuk hengkang dari dunia pekerjaan luar rumah, maka begitu banyak opini yang bermunculan. Ada yg bilang karena kantor akan didatangi bekas bos yg kebetulan terkenal 'galak' sehingga kita memutuskan untuk ngacir duluan, huh picik banget sih. Ada juga yang menanyakan, apa kegiatan yang akan kami lakukan ketika kami benar2 sudah tidak bekerja. Ya jelas lah ngopeni anak. What else? Emangnya kita bakal ongkang-ongkang kaki, kelonan terus sama anak. Banyak teman yang bisa kita lakukan di rumah.
Salah satu rekan kantorku yang kebetulan sudah berputra 2 juga sempet berujar. Repot lho ngopeni 2 anak di rumah itu. Lha.....apalagi komentar yang ini. Sudah tahu klo ngopeni 2 anak sangat repot lha kok malah ditinggal kerja? Mana pengasuhan diserahkan pada pembantu lagi. Apa ya si pembantu nggak kerepotan? Ya, mungkin ada hal lain yang menjadi pertimbangan besar rekanku itu. Semoga dia segera menyusul keputusan kami.
Salah satu amalan yang nggak akan ada putusnya adalah ANAK YG SHOLEH, lalu, sejauh apa yang sudah kita lakukan untuk menjadikan anak-anak kita itu menjadi anak yang sholeh. Coba deh baca buku POSITIVE PARENTING yang ditulis oleh fauzil adhim, biar semakin kebuka wawasan kita terutama ibu-ibu dalam hal mendidik anak. Terus terang, bagiku, banyak sekali yang kutemukan pada buku itu yang di luar wawasanku. Apalagi jaman di sekitar kita seperti ini, sedikit sekali tokoh yang bisa dijadikan sebagai tauladan. Lantas bagaimana dengan jaman ketika anak-anak kita sudah menjadi dewasa? Padahal bagaimana 10 tahun dan lebih anak-anak kita nantinya, sangat tergantung dari pola pendidikan yang kiat terapkan sejak dini, dimana masa-masa itu tidak akan terulang 2 kali, hanya sekali kita akan melaluinya teman. But kembali lagi, masih ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dari masing-masing pribadi untuk menetapkan pilihannya. Itu semua terserah Anda, hidup memang penuh dengan pilihan dan konsekuensi tentunya. Simple sekali temen deketku itu berucap kenapa dia lebih memilih resign. "Iya klo aku diberi umur panjang. Maka aku akan tetap bekerja untuk mempersiapkan dana sedemikian hingga nantinya bisa memberikan fasilitas yang baik bagi anaknya. But ketika nyawaku diambil besok, lantas ada pertanyaan, apa saja yang telah kau perbuat selama ini terhadap anakmu? Apakah aku lantas menjawab, bekerja." Bukan, bukan itu jawaban yang ingin temenku ungkapkan. But dia ingin menjawab, aku menemani setiap detik tumbuh dan kembang anakku dan mengajarinya untuk lebih mengenalmu ya Allah. Barakallah dan semoga kita diberi kemudahan dan keteguhan hati untuk menjalani pilihan yang 'nggak populer' ini. amiiiin

0 comments:

Post a Comment

Recent Post

Recent Comment

Banner