Si Dia Majelis 5
Exsis dan Narsis, itulah awal tujuan ku pertama kali masuk Al-Ma’wa disamping kerena termotivasi oleh sahabat baikku yang sudah menjadi Keluarga Al-Ma’wa tercinta ini, maka dari itu aku ingin sekali menjadi keluarga DKM Al-Ma’wa dan ingin sekali menjadi anggota M1 kali pertama. Alhamdulillah, akhirnya aku ditempatkan di M1 oleh Om Biki yang memang benar dia telah menjadi Kakak pertamaku. Namun, kerena sifatku yang pemalu aku belum bisa mewujudkan tujuan kali pertamaku itu, sampai-sampai aku hampir melupakannya.
Hari pun terus berlalu rasa kekeluargaan yang sangat indah baru pertama kali kurasakan di sini, di Al-Ma’wa tercinta. Hingga akhirnya aku memiliki impian lain karena terinspirasi oleh Akg* n Te*h di Al-Ma’wa tercinta ini.
Pada suatu hari seorang anak kecil bertanya pada aku, apa benar kamu lahir tahun 95?, aku jawab “ia dan memang kenapa?” anak kecil itu meneruskan lagi pembicaraannya yang akhirnya menjadi penyemangatku ku dalam menjalani hidup ini, dia berkata “Buktikan yang terbaik dan jadilah yang terbaik walaupun usiamu 2 tahun di bawah usia angkatanmu lainnya”. Sejak saat itu aku mulai mengerti apa impianku sebenarnya.
Pada suatu hari berikutnya dia mencariku ke kelasku, dia membawa sekantong plastic besar yang berisi makanan dan barang untuk dijual. Lalu ia memintaku untuk belajar menjual beberapa barang dan makanan dari plastik itu. Awalnya aku sempat menolak, namun ia terus memotivasiku, hingga akhirnya aku belajar untuk menjualnya. Namun karena sifat Maluku ini, aku kesulitan untuk menjualnya, aku sempat merasa kesal padanya, bahkan samapai marah di dalam hati. Namun aku berjuang untuk menjualnya, Karena aku tak mau jikalau aku mengecewakannya. Alhamdulillah setelah ku tawarkan ternyata akhirnya barang n makanan itu habis, senang rasanya, namun sayangnya rasa senagnku itu bukan rasa senang karena barangnya habis terjual, melainkan rasa senagn karena terbebas dari perintah si dia.
Seiring berjalannya masa-masa yang mengesankan di Al-Ma’wa tercinta ini, aku jadi semakin dekat dengan si dia. Di sana aku mulai melihat dan mulai mempelajari prinsip*nya, “sungguh keren dan hebat, si anak kecil yang usianya 2 tahun dibawah normal itu mampu berpikir dewasa, bahkan bisa lebih dewasa dari teman*nya yang usianya lebih 2 tahun darinya” ucapku selalu. Sampai suatu ketika ia menjadi juara Putra Favorit PAPI, dan ia menteraktirku makan. Sungguh senang dan semakin salut hatiku padanya. Di sana kami bercakap-cakap sampai ke masalah pribadi.
Hingga pada suatu saat berikutnya, Om Uji (Ket DKM), berkata pada keluarga DKM kelas 10, “ayo kita makan -makan karena M5 lagi banyak uangnya”, aku semakin salut sama ‘si Dia’, dan termotivasi karena pribadinya yang keren. Ia selalu berkata padaku sampai saat ini “luruskanlah niat kita, untuk apa kita hidup ini”, sehingga dalam praktek berjualan pun ia tak pernah merasa malu dan insya Allah gak malu*in.
Aku mulai termotivasi dan ingin bertindak, untuk apa aku ini ? Aku selalu salut padanya, hingga akhirnya si anak kecil itu telah menjadi Kakak Super dalam kehidupanku.
Terimakasih Kakak ku Tercinta, maafkan aku jika aku selalu mengecewakanmu.
Sampai bertemu di puncak kesuksesan dan kebahagiaan bersama Ridho Allah.
AMIN….
Rahman Saputra Adiguna yang insya Allah akan selalu menjadi Adikmu










0 comments:
Post a Comment